Tampilkan postingan dengan label MATERI KEPERAWATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MATERI KEPERAWATAN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Bayi Prematur

BAYI PREMATUR

Definisi :
Bayi baru lahir dengan umur kehamilan 37 minggu atau kurang saat kelahiran disebut dengan bayi prematur. Walaupun kecil, bayi prematur ukurannya sesuai dengan masa kehamilan tetapi perkembangan intrauterin yang belum sempurna dapat menimbulkan komplikasi pada saat post natal. Bayi baru lahir yang mempunyai berat 2500 gram atau kurang dengan umur kehamilan lebih dari 37 minggu disebut dengan kecil masa kehamilan, ini berbeda dengan prematur, walaupun 75% dari neonatus yang mempunyai berat dibawah 2500 gram lahir prematur.

Problem klinis terjadi lebih sering pada bayi prematur dibandingkan dengan pada bayi lahir normal. Prematuritas menimbulkan imaturitas perkembangan dan fungsi sistem, membatasi kemampuan bayi untuk melakukan koping terhadap masalah penyakit.

Masalah yang umum terjadi diantaranya respiratory disstres syndrom (RDS), enterocolitis nekrotik, hiperbilirubinemia, hypoglikemia, thermoregulation, patetnt duktus arteriosus (PDA), edema paru, perdarahan intraventrikular. Stressor tambahan lain pada infant dan orangtua meliputi hospitalisasi untuk penyakit pada bayi. Respon orangtua dan mekanisme koping mereka dapat menimbulkan gangguan pada hubungan antar mereka. Diperlukan perencanaan dan tindakan yang adekuat untuk permasalahn tersebut.

Bayi prematur dapat bertahan hidup tergantung pada berat badannya, umur kehamilan, dan penyakit atau abnormalitas. Prematur menyumbangkan 75% - 80% angka kesakitan dan kematian neonatus.

Etiologi dan faktor presipitasi:
Permasalahan pada ibu saat kehamilan :
Penyakit/kelainan seperti hipertensi, toxemia, placenta previa, abruptio placenta, incompetence cervical, janin kembar, malnutrisi dan diabetes mellitus.
Tingkat sosial ekonomi yang rendah dan prenatal care yang tidak adekuat
Persalinan sebelum waktunya atau induced aborsi
Penyalahgunaan konsumsi pada ibu seperti obat-obatan terlarang, alkohol, merokok dan caffeine


Pengkajian
Riwayat kehamilan
Umur ibu dibawah 16 tahun dengan latar belakang pendidikan rendah
Kehamilan kembar
Status sosial ekonomi, prenatal care tidak adekuat, nutrisi buruk
Kemungkinan penyakit genetik
Riwayat melahirkan prematur
Infeksi seperti TORCH, penyakit menular seksual dan lain sebagainya
Kondisi seperti toksemia, prematur rupture membran, abruptio placenta dan prolaps umbilikus
Penyalahgunaaan obat, merokok, konsumsi kafeine dan alkohol
Golongan darah, faktor Rh, amniocentesis.

Status bayi baru lahir
Umur kehamilan antara 24 – 37 minggu, berat badan lahir rendah atau besar masa kehamilan
Berat badan dibawah 2500 gram
Kurus, lemak subkutan minimal
Adanya kelainan fisik yang terlihat
APGAR skore 1 – 5 menit : 0 – 3 mengindikasikan distress berat, 4 – 6 menunjukkan disstres sedang dan 7 – 10 merupakan nilai normal.

Kardiovaskular
Denyut jantung 120 – 160 x per menit pada sisi apikal dengan irama teratur
Saat kelahiran, terdengar murmur

Gastrointestinal
Protruding abdomen
Keluaran mekonium setelah 12 jam
Kelemahan menghisap dan penurunan refleks
Pastikan anus tanpa/dengan abnormalitas kongenital

Integumen
Cyanosis, jaundice, mottling, kemerahan, atau kulit berwarna kuning
Verniks caseosa sedikit dengan rambut lanugo di seluruh tubuh
Kurus
Edema general atau lokal
Kuku pendek
Kadang-kadang terdapat petechie atau ekimosis

Muskuloskeletal
Cartilago pada telinga belum sempurna
Tengkorak lunak
Keadaan rileks, inaktive atau lethargi

Neurologik
Refleks dan pergerakan pada test neurologik tanpa resistansi
Reflek menghisap, swalowing, gag reflek serta reflek batuk lemah atau tidak efektif
Tidak ada atau minimalnya tanda neurologik
Mata masih tertutup pada bayi dengan umur kehamilan 25 – 26 minggu
Suhu tubuh yang tidak stabil : biasanya hipotermik

Pulmonary
Respiratory rate antara 40 – 60 x/menit dengan periode apnea
Respirasi irreguler dengan nasal flaring, grunting dan retraksi (interkostal, suprasternal, substrenal)
Terdengar crakles pada auskultasi

Renal
Berkemih terjadi 8 jam setelah lahir
Kemungkinan ketidakmampuan mengekresikan sulution dalam urine

Reproduksi
Perempuan : labia mayora belum menutupi klitoris sehingga tampak menonjol
Laki-laki : testis belum turun secara sempurna ke kantong skrotum, mungkin terdapat inguinal hernia.

Data penunjang
X-ray pada dada dan organ lain untuk menentukan adanya abnormalitas
Ultrasonografi untuk mendeteksi kelainan organ
Stick glukosa untuk menentukan penurunan kadar glukosa
Kadar kalsium serum, penurunan kadar berarti terjadi hipokalsemia
Kadar bilirubin untuk mengidentifikasi peningkatan (karena pada prematur lebih peka terhadap hiperbilirubinemia)
Kadar elektrolit, analisa gas darah, golongan darah, kultur darah, urinalisis, analisis feses dan lain sebagainya.

Diagnosa keperawatan
Dx. 1. Resiko tinggi disstres pernafasan berhubungan dengan immaturitas paru dengan penurunan produksi surfactan yang menyebabkan hipoksemia dan acidosis

Tujuan : Mempertahankan dan memaksimalkan fungsi paru

Tindakan :
Kaji data fokus pada kemungkinan disstres pernafasan yaitu :
Riwayat penyalahgunaan obat pada ibu atau kondisi abnormal selama kehamilan dan persalinan
Kondisi bayi baru lahir : APGAR score, kebutuhan resusitasi
Respiratory rate, kedalaman, takipnea
Pernafasan grunting, nasal flaring, retraksi dengan penggunaan otot bantu pernafasan (intercostal, suprasternal, atau substernal)
Cyanosis, penurunan suara nafas
Kaji episode apneu yang terjadi lebih dari 20 detik, kaji keadaan berikut :
Bradykardi
Lethargy, posisi dan aktivitas sebelum, selama dan setelah episode apnea (sebagai contoh saat tidur atau minum ASI)
Distensi abdomen
Suhu tubuh dan mottling
Kebutuhan stimulasi
Episode dan durasi apnea
Penyebab apnea, seperti stress karena dingin, sepsis, kegagalan pernafasan.
Berikan dan monitor support respiratory sebagai berikut :
Berikan oksigen sesuai indikasi
Lakukan suction secara hati-hati dan tidak lebih dari 5 detik
Pertahankan suhu lingkungan yang normal
Monitor hasil pemeriksaan analisa gas darah untuk mengetahui terjadinya acidosis metabolik
Berikan oabt-obat sesuai permintaan dokter seperti theophylin IV. Monitor kadar gula darah setiap 1 – 2 hari.

Dx. 2. Resiko hipotermia atau hipertermia berhubungan dengan prematuritas atau perubahan suhu lingkungan

Tujuan : Mempertahankan suhu lingkungan normal

Tindakan :
Pertahankan suhu ruang perawatan pada 25 C
Kaji suhu rectal bayi dan suhu aksila setiap 2 jam atau bila perlu
Tempatkan bayi di bawah pemanas atau inkubator sesuai indikasi
Hindarkan meletakkan bayi dekat dengan sumber panas atau dingin
Kaji status infant yang menunjukkan stress dingin

Dx. 3. Defiensi nutrisi berhubungan dengan tidak adekuatnya cadangan glikogen, zat besi, dan kalsium dan kehilangan cadangan glikogen karena metabolisme rate yang tinggi, tidak adekuatnya intake kalori, serta kehilangan kalori.

Tujuan : meningkatkan dan mempertahankan intake kalori yang adekuat pada bayi

Tindakan :
Kaji refleks hisap dan reflek gag pada bayi. Mulai oral feeding saat kondisi bayi stabil dan respirasi terkontrol
Kaji dan kalkulasikan kebutuhan kalori bayi
Mulai breast feeding atau bottle feeding 2 – 6 jam setelah lahir. Mulai dengan 3 – 5 ml setiap kali setiap 3 jam. Tingkatkan asupan bila memungkinkan.
Timbang berat badan bayi setiap hari, bandingkan berat badan dengan intake kalori untuk menentukan pemabatasan atau peningkatan intake
Berikan infus dextrose 10% jika bayi tidak mampu minum secara oral
Berikan TPN dan intralipid jika dibutuhkan
Monitor kadar gula darah

Dx. 4. Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan imaturitas, radiasi lingkungan, efek fototherapy atau kehilangan melalui kulit atau paru.

Tujuan : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

Tindakan :
Kaji dan hitung kebutuhan cairan bayi
Berikan cairan 150 – 180 ml/kg berat badan dan 200 ml/kg berat badan jika dibutuhkan.
Timbang berat badan bayi setiap hari
Monitor dan catat intake dan output setiap hari, bandingkan jumlahnya untuk menentukan status ketidakseimbangan.
Test urine : spesifik gravity dan glikosuria
Pertahankan suhu lingkungan normal
Kaji tanda-tanda peningkatan kebutuhan cairan :
Peningkatan suhu tubuh
Hipovolemik shock dengan penurunan tejanan darah dan peningkatan denut jantung, melemahnya denyut nadi, tangan teraba dingin serta motling pada kulit.
Sepsis
Aspiksia dan hipoksia
Monitor potassium, sodium dan kadar chloride. Ganti cairan dan elektrolit dengan dextrose 10% bila perlu.

Dx. 5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imaturitas imunologik bayi dan kemungkinan infeksi dari ibu atau tenaga medis/perawat

Tujuan : Infeksi dapat dicegah

Tindakan :
Kaji fluktuasi suhu tubuh, lethargy, apnea, iritabilitas dan jaundice
Review riwayat ibu, kondisi bayi saat lahir, dan epidemi infeksi di ruang perawatan
Amati sampel darah dan drainase
Lakukan pemeriksaan CBC dengan hitung leukosit, platelets, dan imunoglubolin
Berikan lingkungan yang melindungi bayi dari infekasi :
Lakukan cuci tangan sebelum menyentuh bayi
Ikuti protokol isolasi bayi
Lakukan tehnik steril saat melakukan prosedur pada bayi


Dx. 6. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rapuh dan imaturitas kulit

Tujuan : Mempertahankan integritas kulit

Tindakan :
Kaji kulit bayi terhadap kemerahan, iritasi, rashes, dan lesi serta keadaan pada area kulit yang tertekan.
Kaji tempat-tempat prosedur invasif pada bayi
Berikan perawatan kulit setiap hari. Lindungi kulit bayi dari kontak dengan agen pembersih atau plester.

Dx. 7. Gangguan sensori persepsi : visual, auditory, kinestehetik, gustatory, taktil dan olfaktory berhubungan dengan stimulasi yang kurang atau berlebihan pada lingkungan intensive care

Tujuan : Mempertahankan stimulasi sensori yang optimal tanpa berlebihan

Tindakan :
Kaji kemampuan bayi memberikan respon terhadap stimulus. Observasi :
Deficit neurologik
Kurangnya perhatian bayi terhadap stimulus
Tidak ada respon terhadap suara, kontak mata atau tidak adanya refleks normal
Efek obat terhadap perkembangan bayi
Berikan stimulasi visual :
Arahkan cahaya lampu pada bayi
Ayunkan benda didepan mata bayi
Letakkan bayi pada posisi yang memungkinkan untuk kontak mata : tegakkan bayi
Berikan stimulasi auditory :
Bicara pada bayi, lakukan dengan tekanan suara rendah dan jelas
Panggil bayi dengan namanya, bicara pada bayi saat memberikan perawatan
Bernyanyi, mainkan musik tape recorder atau hidupkan radio
Hindari suara bising di sekitar bayi
Berikan stimulasi tactile :
Peluk bayi dengan penuh kasih sayang
Berikan kesempatan pada bayi untuk menghisap
Sentuh bayi dengan benda lembut seperti saputangan atau kapas
Berikan perubahan posisi secara teratur
Berikan stimulasi gustatory dengan mendekatkan hidung bayi ke payudara ibu atau ASI yang ditampung.
Berikan periode istirahat dan tidur yang cukup.

Asfiksia

ASFIKSIA
Penilaian bayi pada kelahiran adalah untuk mengetahui derajat vitalitas fungsi tubuh. Derajat vitalitas adalah kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat essensial dan kompleks untuk kelangsungan hidup bayi seperti pernafasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan reflek-reflek primitif seperti menghisap dan mencari puting susu. Bila tidak ditangani secara tepat, cepat dan benar keadaan umum bayi akan menurun dengan cepat dan bahkan mungkin meninggal. Pada beberapa bayi mungkin dapat pulih kembali dengan spontan dalam 10 – 30 menit sesudah lahir namun bayi tetap mempunyai resiko tinggi untuk cacat.
Umumnya penilaian pada bayi baru lahir dipakai nilai APGAR (APGAR Score). Pertemuan SAREC di Swedia tahun 1985 menganjurkan penggunaan parameter penilaian bayi baru lahir dengan cara sederhana yang disebut nilai SIGTUNA (SIGTUNA Score) sesuai dengan nama tempat terjadinya konsensus. Penilaian cara ini terutama untuk tingkat pelayanan kesehatan dasar karena hanya menilai dua parameter yang essensial.
Tabel 2. Cara Menetapkan Nilai SIGTUNA
Yang Dinilai
2
1
0
Nilai
Pernafasan
Teratur
Megap-megap
Tidak ada
Denyut jantung
> 100/menit
<>
Tidak ada
Jumlah nilai = Nilai SIGTUNA
Derajat vitalitas bayi baru lahir menurut nilai SIGTUNA adalah : (a) tanpa asfiksia atau asfiksia ringan nilai = 4, (b) asfiksia sedang nilai 2 – 3, (c) asfiksia berat nilai 1, (d) bayi lahir mati / mati baru “fresh still birth” nilai 0.
Selama ini umumnya untuk menilai derajat vitalitas bayi baru lahir digunakan penilaian secara APGAR. Pelaksanaanya cukup kompleks karena pada saat bersamaan penolong persalinan harus menilai lima parameter yaitu denyut jantung, usaha nafas, tonus otot, gerakan dan warna kulit. dari hasil penelitian di AS nilai APGAR sangat bermanfaat untuk mengenal bayi resiko tinggi yang potensial untuk kematian dan kecacatan neurologis jangka panjang seperti cerebral palsy. Dari lima variabel nilai APGAR hanya pernafasan dan denyut jantung yang berkaitan erat dengan terjadinya hipoksia dan anoksia. Ketiga variabel lain lebih merupakan indikator maturitas tumbuh kembang bayi.
Penanganan asfiksia pada bayi baru lahir bertujuan untuk menjaga jalan nafas tetap bebas, merangsang pernafasan, menjaga curah jantung, mempertahankan suhu, dan memberikan obat penunjang resusitasi. Akibat yang mungkin muncul pada bayi asfiksia secara keseluruhan mengalami kematian 10 – 20 %, sedangkan 20 – 45 % dari yang hidup mengalami kelainan neurologi. Kira-kira 60 % nya dengan gejala sisa berat. Sisanya normal. Gejala sisa neurologik berupa cerebral palsy, mental retardasi, epilepsi, mikrocefalus, hidrocefalus dan lain-lain.
Diagnosa Keperawatan
Gangguan pertukaran gas
Data penunjang/Faktor kontribusi :
Oksigenasi yang adekuat dari bayi dipengaruhi banyak faktor seperti riwayat prenatal dan intrapartal, produksi mukus yang berlebihan, dan stress karena dingin. Riwayat prenatal dan intrapartal yang buruk dapat mengakibatkan fetal distress dan hipoksia saat masa adaptasi bayi. Pertukaran gas juga dapat terganggu oleh produksi mucus yang berlebihan dan bersihan jalan nafas yang tidak adekuat. Stress akibat dingin meningkatkan kebutuhan oksigen dan dapat mengakibatkan acidosis sebagai efek dari metabolisme anaerobik.
Tujuan :
Jalan nafas bebas dari sekret/mukus, pernafasan dan nadi dalam batas normal, cyanosis tidak terjadi, tidak ada tanda dari disstres pernafasan.
Intervensi :
Amati komplikasi prenatal yang mempengaruhi status plasenta dan fetal (penyakit jantung atau ginjal, PIH atau Diabetes)
Review status intrapartal termasuk denyut jantung, perubahan denyut jantung, variabilitas irama, level PH, warna dan jumlah cairan amnion.
Catat waktu dan pengobatan yang diberikan kepada ibu seperti Magnesium sulfat atau Demerol
Kaji respiratori rate
Catat keadaan nasal faring, retraksi dada, respirasi grunting, rales atau ronchi
Bersihkan jalan nafas; lakukan suction nasofaring jika dibutuhkan, monitor pulse apikal selama suction
Letakkan bayi pada posisi trendelenburg pada sudut 10 derajat.
Keringkan bayi dengan handuk yang lembut selimuti dan letakkan diantara lengan ibu atau hangatkan dengan unit pemanas
Amati intensitas tangisan
Catat pulse apikal
Berikan sentuhan taktil dan stimulasi sensori
Observasi warna kulit, lokasi sianosis, kaji tonus otot
Kolaborasi
Berikan oksigen melalui masker, 4 - 7 lt/menit jika diindikasikan asfiksia
Berikan obat-obatan seperti Narcan melalui IV
Berikan terapi resusitasi
DAFTAR PUSTAKA
Markum, A.H., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, Jilid I, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1991
Melson, Kathryn A & Marie S. Jaffe, Maternal Infant Health Care Planning, Second Edition, Springhouse Corporation, Springhouse Pennsylvania, 1994
Wong, Donna L., Wong & Whaley’s Clinical Manual of Pediatric Nursing, Fourth Edition, Mosby-Year Book Inc., St. Louis Missouri, 1990
Doenges, Marilyn E., Maternal/Newborn Care Plans : Guidelines for Client Care, F.A. Davis Company, Philadelphia, 1988

INFEKSI SUSUNAN SARAF

INFEKSI SUSUNAN SARAF

Batasan :
Meningoensefalitis , infeksi piameter, araknoid dan jaringan otak

Jenis :
1. M. Purulenta / akut pyogenik
2. M. serosa / granulomatosa
3. M. aseptik


Etiologi :
Bakteri Neonatal Anak Dewasa
Purulenta E. Coli H. inf Pneumokokus
Streptococus Meningococus Meningococus
Staphilococus Pneumococus Streptococus
Pneumococus E. coli H. Inf
Serosa  Micobakterium TBC
 Treponema
 Parasit
 Jamur



Aseptik  Virus herpes simpleks
 HIV
 Cytomegalovirus
 Epstein Barr




Gejala Umum :
• M. Purulen : Onset akut 48 - 72 jam, gejala panas tinggi
• M. Serosa : Onset pelan-pelan / kronik
• M. aseptik : Onset akur >
• Tanda meningeal +
 Kaku kuduk
 Kernig
 Brudzinski : I - IV
• Gangguan kesadaran  fase lanjut
• Gejala neuro. Focal
• Likuor : kelainan (-)
• Pemeriksaan :
Pemeriksaan M. Purulenta M. Serosa M. Aseptik
Warna Kuning Jernih Jernih
Sel PMN > 1000 MN > 500 MN < 500 Protein ↑ > 45 mn % ↑ Normal / ↑ sedikit
Pellikel ( - ) ( + ) ( - )
Kultur ( + ) ( + ) ( - )

• Funduscopy : M. TBC  tuberkel ( + )

Diagnostik :
• Gejala klinis
• Lumbal pungsi  diagnosa pasti
• X- photo thorak, waters, mastoid

Meningeal sign :
 Kaku kuduk = Nuchal Rigidty
DD dengan Neck Stiffness
Kaku kuduk : gerakan fleksi kepala ke dada terbatas
Gerakan leher ke lateral normal
Neck Stiffness : gerakan ke lateral ada hambatan

Eg. Parkinson Disease
Paraspinal spasme otot leher
 Kernig Sign
Gerakan tungkai bawah < 135o sering terasa nyeri Di otot Hamstringok spasme Cara : Fleksi sendi paha 90o Fleksi sendi lutut 90o mlalu Ekstensi sendi lutut > 135o
 Brudzinski I : tanda leher
Brudzinski neck sign
Gerakan antero fleksi leher ke dada diikutin gerakan fleksi ke 2 tungkai dan ke 2 paha
 Brudzinski II : tanda tungkai
Brudzinski kontra lateral
Lateral leg sign
Pasien terlentang , satu tungkai difleksikan pada sendi lutut dan sendi panggul ke arah abdomen  diikuti oleh fleksi tungkai kontra lateral .
Fleksi 1 tungkai dan yang lain ekstensi , tungkai yang fleksi diturunkan menyamai fleksi tungkai yang ekstensi
 Brudzinski III : tanda pipi
Tekan pada kedua pipi ( os. Zigomaticus )  kedua lengan fleksi
 Brudzinski IV : tanda symphisis pubis
Tekan di atas symphisis pubis  diikuti fleksi kedua tungkai pada sendi lutut dan sendi panggul

PENGOBATAN
 sesuai dengan kuman penyebab
• H. INFL
Ampisilin A : 200 - 400 mg / Kg / hr.
D : 8 - 12 g / hr IV
Kloramfenikol : A : 100 mg/ kg / hr
D : 4 g / hr IV

• M. KOKUS
Benzyl penisilin 200.000 u /kg / hr
Kloramfenikol


• PSEUDOMONAS
Gentamisin 6 mg / kg / hr
Cefalosporin generasin ke 3
Cefotaxim 3 g/ hr IV
Rosefin

• Anaerob :
Metronidazol drip
• M. TBC
Strep A : 20 - 40 mg / kg / hr
D : 1 g IM / hr
INH A : 10 - 20 mg / hr P.O
Rifampisin : 15 mg / kg / hr
Pirasinamid : 20 - 35 mg / kg / hr

• VIRUS
Acyclovir 10 mg / kg / 8 jam
2 x 250 mg IV
Tx. Symtomatik :
Kejang : valium
Diphenil hidantoin
Karbamazapin
Edema otak : dexametason
Analgesik
Antipiretik

PROGNOSA
Tergantung :
- Etiologi
- Usia
- Dx. dini
- Tx. Adekuat
- Komplikasi + / - : Subdural empyem
Hidrosefalus
DIC
SIADH

INTERVENSI
- Fokus primer diobati
- Vaksinasi : Meningo kokus

Penyebaran :
C. Langsung
• Luka tembak
• Luka bacok
• Fraktur basis cranii
• Fraktur kepala terbuka

D. Fokus di daerah kepala :
THT : sinus, mastoid, OMPC
Trombosis sinus cavernosus
Gigi

E. Hematogen / via darah
Milier TBC













BATASAN
 Kejang adalah lepas muatan abnormal dan berlebihan secara sinkron dari neuron- neuron di dala SSP
 Epilepsi adalah suatu keadaan klinis pada penderita yang cenderung mendapatkan serangan kejang epilepsi berupa serangan paroxismal berulang
 Jadi kalau 1 x kejang bukan epilepsi

KLASIFIKASI
I. PARTIAL SEIZURES
A kejang partial sederhana ( simple )
A1 dengan manifestasi motorik
A2 --------"------------- sensorik
A3 --------"------------- otonomik
A4 --------"------------- psikik

B kejang partial komplek
B1 dengan kejang partial sederhana ( seperti A1 - A4 ) pada waktu onset diikuti oleh absence
B2 dengan absence pada waktu onset ( B1 & B2 ) bisa diikuti automatism

C kejang umum sekunder
Dengan evolusi dari simple atau complex partial seizures ( aura ) menjadi kejang umum ( grand mall )

II. KEJANG UMUM
A. Absence seizures ( petitmall )
B. Myoclonic ---"--
C. Clonic ---"---
D. Tonic ---"----
E. Tonic - conic ( grandmall )
F. Atonic ( astatic ) seizures

III. UNCLASSIFIED ( Tak dapat digolongkan )

GEJALA KLINIK

I. EPILEPSI UMUM
Gambaran klinik dan atau perubahan EEG awalnya awalnya cetusan epileptik di kedua hemisper dengan serentak dan tidak ada fokus epileptik di korteks cerebri

1. Epilepsi Grand Mall
= tonik klonik seizures
umur anak 3 tahun - pubertas
bentuk paling yang sering didapatkan

Ada 3 fase :
a. Fase tonik
 Lengan dan tungkai ekstensi
 mengejan sehingga wajah merah
 apnea selama 30 detik
 sianosis , tensi naik , pupil melebar reflek cahaya ( - )
 reflek patologis ( + )
 ngompol
b. Fase clonik lama 60 detik
 Kejang ritmik , penderita bernafas lagi
 Kadang - kadang lidah tergigit
 Mulut berbuih
 Wajah normal kembali
 Tensi dll normal
c. Fase post ictal lama 15.30 menit
 Setelah serangan penderita tertidur
 Waktu bangun bingung bermenit - menit kemudian normal

Serangan grand mall kadang - kadang terjadi beturut - turut
Status epileptikus : kejang berturut - turut antara 2 kejang penderita sadar  merupakan keadaan gawat darurat
Serial epilepsi : kejang berturut - turut dan antara 2 kejang sadar

2. Epilepsi Petit Mall
- Sering timbul pada anak usia sekolah
- Tidak terdapat kejang
- Gangguan kesaran dalam waktu singkat ( 6 - 10 detik )
- Penderita tidak sampai jatuh
- Melamun, sedang bermain mendadak berhenti
- EEG khas : 3 second spike slow wave






- Provokasi : dengan hiperventilasi

3. Epilepsi Mioklonik
- Biasanya . Pada anak
- Saat serangan terjadi gangguan kesadaran sebentar, disertai derakan volunter yang aneh dari sekelompok otot ( mioklonik jerking ) terutama otot bahu dan lengan

4. Epilepsi Atonik
Penderita mendadak kehilangan tonus otot disebut drop attack

II. EPILEPSI PARTIAL
Adalah serangan epilepsi yang bangkit akibat lepas muatan listrik di suatu daerah di korteks cerebri ( fokus )

A. Epilepsi partial sederhana
Manifestasi tergantung dari SSP yang terkena :
- Epilepsi partial sederhana dengan gejala motorik ( Jackson Motorik Epilepsy ) Fokus di gyrus pre sentralis lobus frontalis
- Epilepsi partial sederhana dengan gejala sensorik ( Jackson Sensorik Epilepsy ) Fokus di gyrus post centralis lobus parietalis

B. Epilepsi partial kompleks
 Epilepsi psikomotor
 temporal lobe epilepsy
 epilepsi partial disertai gangguan kesadaran
 tanda yang menonjol gejala psikis dan automatisme
 kelainan / fokus di lobus temporal


PEMERIKSAAN KLINIS
Cari kelainan fokal, bila ada :
- Aura
- Pemutaran kepala waktu kejang
- Todd's paralisis yaitu: hemiparese post ictal
- Waktu serangan : mau bangun tidur atau akan tidur
- Umur < 3 tahun atau setelah pubertas - Pertumbuhan ekstremitas pada anak Pemeriksaan tambahan : - DL, UL, Natrium, Calsium, BUN, S. Creatinin, BSN, 2 Jam PP, LCS - EEG - X' foto kepala - CT Scan / MRI -  Arteriografi DIAGNOSIS - Ditentukan dulu epilepsi atau bukan - Bila epilepsi termasuk bentuk yang mana - Penyebabnya meningitis, AVM, Diagnosis Banding : 1 Sindrom neurologik periodik tanpa gangguan kesadaran ex. TIA, Migrain , Hiperventilasi 2 Sinkop 3 Psikoneurosa reaksi konversi ( histeris ) 4 Breath Holding Spells PENGOBATAN Prinsip : - Mono pharmacy : gunakan 1 macam obat anti epilepsi - Mulai dosis rendah - Dosis dinaikkan bertahap : 5 x 10 half - Life obat misalnya dph setelah 5 hr - Obat dihentikan bila : - 2 tahun bebas kejang - EEG normal - Kejang umum primer - Tidak ada kelainan neuro - psikiatris - Grand mall : difenil hidantoin ( DPH ) 3 x 100 mg - Epilepsi partial : karbamazepin 3 x 100 mg dinaikkan sampai 3 x 200 mg - Petit mall epilepsi : klonazepam ( rivotril ) 3 x 1 tablet atau valproat - Mioklonik : sodium valproat atau klonazepam - Obat baru : trileptal, lamictal, gabapentin, topiramate STATUS EPILEPTICUS Penyebab : 1. Penderita mendadak berhenti minum obat 2. Meningitis 3. Tumor otak 4. Encepalopati 5. Abses otak 6. Perdarahan otak 7. Hipoglikemi 8. Sindroma reye pada anak Jenis kejang status 1. Grand mal status 2. Absence status 3. Complex partial status 4. Partial motor status Pengobatan - Dilantin bolus 300 mg disusul 3 x 100 mg IV Dilanjutkan dengan dilantin caps. 3 x 100 mg - Boleh diberikan diazepam IV 10 mg , bila masih kejang diulang setiap 2 jam 10 mg IV ( max. 120 mg / hr ). ESO : depresi pernafasan Atau diazepam pump 0,6 cc / jam - Bila dengan cara di atas kejang masih belum berhenti , konsul ke anestesi  narkose dengan thiopentone - Pengobatan penyebabnya DEFINISI : Adalah gangguan fungsi otak, fokal atau global , yang timbul mendadak berlangsung > 24 Jam ( kecuali bila mengalami pembedahan atau meninggal sebelum 24 Jam, disebabkan oleh karena perdaran darah otak ( WHO, MONICA PROJECT< 1995 ) INSIDEN : 180 / 100.000 ( 0,2 % ) PREVALENSI : 500 - 600 / 100.000 ( 0,5 % ) STROKE merupakan penyakit syaraf yang sering dijumpai, paling banyak dirawat, menimbulkan kecacatan dan kematian ( di RSUD Dr. Soetomo Ic.stroke : 56,83 % ) STROKE INFARK Pembagian klinis : 1. TIA ( SOS ) semua gejala neurologis sembuh dalam 24 Jam Transient Ischemic Atack Serangan otak sepintas 2. RIND : gejala neurologis sembuh dalam waktu > 24 Jam
Reversible Ischemic Neurologyc Deficit
3. Progresive Stroke
4. Completed Stroke

Faktor resiko yang dapat dikendalikan

1. Diabetes mellitus
2. Hipertensi
3. Hiperurisemia
4. Disl;ipidemia
5. Hiperfibrinogenemia
6. Polisitemia vera
7. Hiperhomosisteinemia
8. Rokok
9. Pil KB
10. Penyakit kolagen
11. PJK
12. Alkohol
13. Obesitas


Faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan
1. Genetik
2. Ras
3. Umur
4. Sex

Umur : ≤ 45 th. ---------18,6 %
46 - 60 th. -------43,19 %
61 - 75 th. ------- 32,17 %

Sex : ♂ > ♀

Klasifikasi stroke :
1. Perdarahan :  37,7 %
- Intracerebral
- Subarachnoid
2. Ischemic / infark :  56,37 %
- Trombotik
- Embolik
ANATOMI
Darah ke otak melalui :
1 2 A. karotis ke otak besar ( cerebrum )
2 2 A. vertebralis ke otak kecil ( cerebellum ) dan batang otak, hemisfer otak bagian belakan dan bawah

PENGOBATAN
Enam ( 6 ) B diperhatikan
- manitol 20 % untuk edem otak
- bila tekanan darah > 200 Sistolik diturunkan dengan diltiazem pump atau nifedipin sub lingual 5 mg setelah itu diberi captopril 3 x 12,5 mg sambil monitoring tekanan darah
- pembedahan
volume perdarahan : 40 - 60 cc
lokasi terjangkau , cerebellum
GCS : 7 - 10
- konservatif , bila :
umur tua
perdarahan letak di dalam atau daerah vital pons

Diagnosis sah :
- arteriografi 4 vessel setelah fase akut

pengobatan : clipping embolisa

No. Bila ada Perdarahan Infark
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
12

14 Permulaan
Waktu serangan
TIA
Nyeri kepala
Muntah
Kejang
Kesadaran ↓
Bradikardi
Kaku kuduk
Ptosis
Pupil edem
Perdarahan retina
Lokasi

CT Scan Sangat akut
Aktif
-
+ +
+ +
+ +
+ +
hari I
+ +
+ +
+
+ +
sub cortical

area hiperdens segera akut
Bangun pagi
+
-
-
-
+/- hari III  edem otak
-
-
-
-
cortical / sub cortical

area hipodens setelah hari ke 3
15 Siriaj skor
< 1 ICH > 1
SAH
Nyeri kepala
Kaku kuduk
Gangguan N. III, IV
Kelumpuhan
Hipertensi + +
+
+
hemiplegi
+ + + + +
+ + +
+ + +
hemiparese
±
16 Letak lesi kortikal sub kortikal
Afasia

Astereognosis gangguan fungsi luhur

Kelumpuhan lengan dan tungkai tidak sama

Gangguan sensibilitas

Dystonic posture

Kedua mata melihat hidung + +

+ +


……


-

-

- -

-


……


+ +

+ +

+ +


Diagnosis Stroke Infark
 Pemeriksaan klinis
 CT Scan

Pengobatan:
 Perhatikan golden periode dalam 6 jam
 Harus diobati dengan CDP choline 2 X 250 mg IV
 Hyperaggregasi

 Polisitemia vera

Bila ada diobati dengan
 Pentoxifillin drip 2 X 3 g.
 Nicergoline (sermion) 2 X 1 Amp. IV
 RTPA : bila diobati dalam waktu 3 jam
 Pengobatan faktor resiko.
 Rehabilitasi aktif sedini mungkin
 Pengendalian 6 B
 Pengobatan stroke embolik rawat bersama cardiolog misalnya ada atrial fibrilasi, decompensasi cordis
 Fraxiparen 2 X 0.3 - 0.4 cc
Photobucket